Senin, 01 Oktober 2018


Indahnya Toleransi
Kita hidup di negeri Indonesia yang kaya akan budaya, suku dan bangsa. Serta kekayaan alam yang melimpah dan ada beberapa agama yang diresmikan oleh pemerintah yang bebas dianut sesuai kepercayannya. Semua dipersatukan dengan ideology Pancasila sebagai tujuan hidup bersama. Pancasila adalah Anugerah Tuhan yang tidak terkira bagi bangsa yang berpenduduk keempat terbesar di dunia ini. Tidaklah juga salah ketika para pemimpin negara ini memutuskan untuk tidak menjadikan Indonesia sebagai negara agama tertentu atau sebaliknya negara sekuler. Jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia amat sangat cocok dengan Pancasila. Sebaliknya Pancasila satu-satunya prinsip berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang paling tepat bagi negara kita.  Untuk mempersatukan keberagaman yang ada di Indonesia ini maka dinutuhkan rasa saling menyayangi, saling menghormai, saling menghargai. Maka kita dituntut untuk menjunjung tinggi rasa toleransi untuk bisa bersatu hidup bersama di Indonesia.
Dengan adanya toleransi, kita dapat menghargai dan menghormati kegiatan yang dilakukan masyarakat sekitar, khususnya kehidupan antar umat beragama. Selain itu, kita harus tetap mengeratkan tali silaturrahmi baik antar sesama umat beragama, maupun yang berbeda agama. Dengan menghayati makna toleransi, maka kehidupan bermasyarakat dalam perbedaan suku, agama dan ras dapat dicapai dengan sebaik-baiknya. Bahkan toleransi memberi dampak dan manfaat yang luas bagi umat beragama dan bermasyarakat terkhusus di Indonesia.
Toleransi amat sangat berperan sekali bagi bangsa Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, hampir disetiap aspek kehidupan yang termuat di pancasila, disana terselip sikap toleransi, entah itu berperan banyak atau tidak, intinya bersikap toleransi itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun akhir-akhir ini di Indonesia banyak terjadi kasus mengenai toleransi, apalagi toleransi dalam beragama. Seakan-akan pernyataan yang mengatakan kebebasan dalam beragama itu tidak lagi sama  antara konteks pernyataanya dengan realita dilapangan. Berbagai kasus mulai dari sengketa tanah tempat ibadah, diskriminasi pendidikan karena perbedaan agama, pembakaran atau perusakan tempat ibadah, semua itu terjadi karena tidak adanya rasa saling menerima perbedaan. Mereka cenderung mementingkan ego dibanding rasa persatuan atau kerukunan antar sesama manusia. Oleh karena itu muncullah sebutan “tokoh agama”. Tokoh agama ini adalah seseorang yang ahli dalam ilmu keagamaan yang ia anut, yang nantinya bisa menjadi penengah saat terjadi kesalahpahaman atau perselisihan baik antar intern umat beragama, atau agama satu dengan agama yang lain.
Cara lain untuk mengurangi konflik-konflik itu ialah dengan diadakannya dialog antar umat beragama. Dialog ini bukan berarti di dalamnya nanti akan berisi salah menyalahkan ajaran lain atau malah  memicu terjadinya perdebatan hebat, namun dengan adanya dialog ini diharapkan antar umat beragama terjadi saling bertukar ilmu dan pikiran mengenai keagamaan, bukan untuk mencari mana yang paling benar, namun lebih kepada untuk membangun kebersamaan dan persatuan. Dapat ditarik kesimpulan, bahwa dasar/sumber dari konflik-konflik toleransi di Indonesia yaitu rasa ego yang semakin parah, rasa paling benar diantara lainnya sehingga memunculkan sikap merendahkan golongan lain, serta kurang tertanamnya dalam individu masing-masing mengenai pentingnya kesatuan dalam hidup bermasyarakat.