Indahnya Toleransi
Kita hidup di negeri Indonesia yang
kaya akan budaya, suku dan bangsa. Serta kekayaan alam yang melimpah dan ada beberapa
agama yang diresmikan oleh pemerintah yang bebas dianut sesuai kepercayannya.
Semua dipersatukan dengan ideology Pancasila sebagai tujuan hidup bersama. Pancasila
adalah Anugerah Tuhan yang tidak terkira bagi bangsa yang berpenduduk keempat
terbesar di dunia ini. Tidaklah juga salah ketika para pemimpin negara ini
memutuskan untuk tidak menjadikan Indonesia sebagai negara agama tertentu atau
sebaliknya negara sekuler. Jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia amat sangat
cocok dengan Pancasila. Sebaliknya Pancasila satu-satunya prinsip berbangsa,
bernegara, dan bermasyarakat yang paling tepat bagi negara kita. Untuk mempersatukan keberagaman yang ada di Indonesia
ini maka dinutuhkan rasa saling menyayangi, saling menghormai, saling
menghargai. Maka kita dituntut untuk menjunjung tinggi rasa toleransi untuk
bisa bersatu hidup bersama di Indonesia.
Dengan adanya toleransi, kita dapat
menghargai dan menghormati kegiatan yang dilakukan masyarakat sekitar,
khususnya kehidupan antar umat beragama. Selain itu, kita harus tetap
mengeratkan tali silaturrahmi baik antar sesama umat beragama, maupun yang berbeda
agama. Dengan menghayati makna toleransi, maka kehidupan bermasyarakat dalam
perbedaan suku, agama dan ras dapat dicapai dengan sebaik-baiknya. Bahkan
toleransi memberi dampak dan manfaat yang luas bagi umat beragama dan
bermasyarakat terkhusus di Indonesia.
Toleransi amat sangat berperan
sekali bagi bangsa Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, hampir disetiap aspek
kehidupan yang termuat di pancasila, disana terselip sikap toleransi, entah itu
berperan banyak atau tidak, intinya bersikap toleransi itu sangat dibutuhkan
dalam kehidupan bermasyarakat. Namun akhir-akhir ini di Indonesia banyak
terjadi kasus mengenai toleransi, apalagi toleransi dalam beragama. Seakan-akan
pernyataan yang mengatakan kebebasan dalam beragama itu tidak lagi sama
antara konteks pernyataanya dengan realita dilapangan. Berbagai kasus mulai
dari sengketa tanah tempat ibadah, diskriminasi pendidikan karena perbedaan
agama, pembakaran atau perusakan tempat ibadah, semua itu terjadi karena tidak
adanya rasa saling menerima perbedaan. Mereka cenderung mementingkan ego
dibanding rasa persatuan atau kerukunan antar sesama manusia. Oleh karena itu
muncullah sebutan “tokoh agama”. Tokoh agama ini adalah seseorang yang ahli
dalam ilmu keagamaan yang ia anut, yang nantinya bisa menjadi penengah saat terjadi
kesalahpahaman atau perselisihan baik antar intern umat beragama, atau agama
satu dengan agama yang lain.
Cara lain untuk mengurangi
konflik-konflik itu ialah dengan diadakannya dialog antar umat beragama. Dialog
ini bukan berarti di dalamnya nanti akan berisi salah menyalahkan ajaran lain
atau malah memicu terjadinya perdebatan hebat, namun dengan adanya dialog
ini diharapkan antar umat beragama terjadi saling bertukar ilmu dan pikiran
mengenai keagamaan, bukan untuk mencari mana yang paling benar, namun lebih
kepada untuk membangun kebersamaan dan persatuan. Dapat ditarik kesimpulan,
bahwa dasar/sumber dari konflik-konflik toleransi di Indonesia yaitu rasa ego
yang semakin parah, rasa paling benar diantara lainnya sehingga memunculkan
sikap merendahkan golongan lain, serta kurang tertanamnya dalam individu
masing-masing mengenai pentingnya kesatuan dalam hidup bermasyarakat.